Home
  About Kick Ass Choppers
 
  News
     
  Projects
     
  Gallery
  GuestBook
  Links
   
  Contact Us
     
 
Journal From Asian International Motorcycle Expo 2007 In Malaysia

Posted by Veroland on 2007-11-05


Hari Rabu (17/10), rombongan Indonesian Bike Builders Team (IBBT) berkumpul di Mc Donald’s Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Di hari pertama perjalanan kami itu, saya sudah merasakan serunya perjalanan ini. Team kami sudah ‘rusuh’ di Bandara sejak sekitar jam 5 pagi karena ulah Iman yang memberikan baju team yang sudah di-custom dengan tambahan bahan satin - karena sempat nggak muat di badan saya. IBBT yang terdiri dari Iman (Monochrome Cycle – Jakarta), Bimo (Bimo Custom Bikes – Jakarta), Lulut a.k.a. LT (Retro Classic Cycles – Jogjakarta) dan saya, Veroland (KickAss Choppers – Jakarta), pada acara kali ini didukung oleh sejumlah teman yaitu: Gareng, Isfan (Motorplus), Rama (Jak TV), Bully (Ascomaxx), Yayat (Retro Classic), Yaqin (cameraman Jak TV), Akbar (Autocar) dan Mama Jane.

Tiba di LCC, kami langsung mencari kendaraan untuk menuju ke hotel tempat kami akan menginap selama berada di Kuala Lumpur nantinya. Pilihan jatuh pada Cipaganti Travel (begitu kami menyebutnya, gara-gara jenis mobilnya KIA Pregio… hahaha!). Sesampainya di hotel, kami langsung nongkrong-nongkrong di luar sambil merokok. Saya sempat melihat Chicara (juara dunia AMD Custom Bike Building tahun 2006, dan juara 2 di tahun 2007 ini). Saya langsung berkata dalam hati, “Wah, ternyata acara ini bukan sekadar ‘main-main’! Pasti bakal seru, karena desas-desus bahwa Chicara akan hadir ternyata bukan cuma isyu aja nih!”

Sesudah meninggalkan tas serta barang-barang di hotel, kami mencari makan siang di sekitar hotel lalu langsung menuju Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) untuk unloading motor-motor kami dari container, demikian rencananya. Pada waktu memberangkatkan motor-motor tersebut dari Jakarta, saya sendiri lah yang menaikkan motor ke atas container - untuk memastikan bahwa tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sewaktu pengiriman. Ternyata, begitu tiba di KLCC, kami langsung diarahkan oleh pihak security ke arah gudang. Wah, wah, wah… Ada apa ini?

Ternyata, motor kami sudah sampai. Artinya, ada orang lain – di luar IBBT - yang menurunkan motor kami ke gudang. Dan setelah saya tanya-tanya, ternyata dari atas container itu sudah sempat dipindah ke truk kecil, kemudian dibawa ke KLCC, lalu diturunkan di sana. Awalnya saya sempat senang, karena artinya kami nggak usah repot lagi menurunkan motor. Kami lantas memulai proses bersih-bersih motor - yang selama pengiriman memang jadi kotor. Konsentrasi kami sempat terpecah oleh datangnya Chica (builder terkenal keturunan Jepang yang membuka workshop-nya di Huntington Beach, California). Chica melihat motor-motor bawaan kami lalu mengobrol sebentar tentang Anfibio (motor yang saya bawa kali ini, dibuat pada Maret 2006). Chica sempat memuji ide saya memadukan style old skool (warna glitter, bentuk rangka seperti sepeda, mesin shovelhead) dengan teknologi modern yaitu air suspension, sehingga motor bisa menjadi sangat ceper dan menempel di aspal ketika dalam posisi parkir, tanpa mengurangi kenyamanan saat dikendarai.

Panitia akhirnya memberitahu bahwa sudah saatnya memasukkan motor ke venue. Dan saya pikir memang lebih baik kita meneruskan membersih-bersihkan motornya di dalam saja. Toh ruangannya lebih bersih, juga bebas debu dibanding di gudang yang panas dan berisik. Tapi ketika saya menyalakan air suspension pada Anfibio, hampir copot jantung saya! Bagian belakang motor nggak mau naik! Setelah saya periksa, ternyata ada kebocoran dari pompa air suspension bagian belakang. “Motor ini sudah setahun lebih dipakai jalan ke mana-mana dan nggak pernah ada masalah seperti ini. Maksudnya, Anfibio kan benar-benar dipakai kemana-mana oleh pemiliknya, Dewo. Kenapa kali ini bisa bocor?” tanya saya dalam hati. Pasti pada saat menurunkan dari container, ada yang ketarik atau terbentur sesuatu.

Tapi waktu itu I wasn’t in the mood untuk complain, apalagi ngotot, ke pihak shipping-nya. Lagipula menurut saya itu hanya membuang waktu saya saja. Sebenarnya, saya bisa saja membetulkannya sendirian. Tapi butuh waktu untuk membongkarnya, sementara panitia sudah menunggu. Maka saya terpaksa mendorong Anfibio ke dalam dengan posisinya yang jadi terlalu rendah di bagian belakangnya. Sambil terus diliputi rasa khawatir, “Akankah motor saya didiskualifikasi?” Karena, di formulir pendaftaran tertera jelas peraturan bahwa pada kontes ini, motor akan di-scrutineering; harus dalam kondisi mesin hidup dan pula bisa jalan. Kalau buat jalan sih, saya yakin mesin Anfibio sehat walafiat. Jadi bisa aja jalan, tapi jadinya ya akan terlalu rendah di bagian belakangnya. Bukan hanya saya, seluruh rombongan IBBT ikut pusing dibuatnya. Rama dan Yaqin sampai menyuruh saya untuk duduk dulu, sementara mereka memoles Anfibio. Pada saat itulah saya berkenalan dengan Frederic Bagur, wartawan dari Wild Motorcycles (Eropa) yang sangat terkesima melihat tampilan Anfibio.

Fred langsung memotret Anfibio tanpa henti sambil terus memuji Anfibio. Fred juga meminta saya menyiapkan waktu untuk photo session sebelum motor dikirim kembali ke Indonesia. Fred sempat bercerita bahwa sejak awal tahun 2000 dulu ia ingin sekali datang ke Jakarta. Pasalnya, saat itu ada motor dari Jakarta yang sangat wild, yang sempat di-post di website Greasy Kulture. “Ciri-cirinya; frame super rendah, pakai springer, mesin shovelhead, oil filter-nya dari kaleng Budweiser, ban belakang white wall bertapak lebar dengan velg di-cat merah,” begitulah Fred mendeskripsikan motor yang menurutnya juga sangat terkenal hingga menjadi ‘big influence’ di Eropa itu. Motor tersebut memadukan gaya ol’ skool (pada waktu itu ol’ skool belum sepopuler sekarang) dengan warna hitam doff, ban putih dan velg merah. Pada saat itu, belum pernah ada yang memilih kombinasi warna yang biasanya diaplikasikan pada mobil-mobil tradisional hotrod. Konon, sulit sekali menghubungi sang empunya motor pada saat itu. Bahkan, Fred serta Mark (dbbp.com) terus mengusut siapa pemilik motor tersebut, tapi tetap tidak membuahkan hasil.

Seketika saja pusing kepala saya hilang dan mood saya berbalik 180 derajat karena merasa tersanjung 13! Karena… Y’know what, motor yang diceritakannya itu adalah motor buatan saya, yaitu Pugi Ass!!! Whoa!

Memang, pada masa itu, bisa dibilang saya jarang sekali bersentuhan dengan komputer. Apalagi internet! Lagipula memang nggak sempat, karena saat itu saya baru memulai usaha saya ini dan saya harus mengerjakan nyaris seluruh pekerjaan di bengkel karena pada waktu itu bengkel saya ini baru mempunyai 2 orang karyawan saja. Dulu, saya nggak punya website. Saya hanya pernah mengirimkan foto motor saya ini ke seorang teman di London, yang ternyata mem-posting-nya di internet. Fred bilang, dia senang sekali bisa bertemu dengan saya. Berita pertama yang akan disampaikannya ketika nanti bertemu Mark dari dbbp.com dan teman-temannya di Eropa, konon, adalah bahwa akhirnya ia bertemu dengan si ‘misterious builder’ dari Jakarta.


Sempat saya pergi keluar dari tempat acara untuk istirahat sebentar dan mencari tempat buat ngebir. Waktu itu saya jalan bareng Bully. Dalam perjalanan keluar, kami berpapasan dengan Chica yang lantas bertanya, ke mana saya akan pergi. Ketika saya jawab, “Mau cari bir!”, ternyata ia memutuskan untuk ikutan. Kenji Nagai (Ken’s Factory - Jepang) ikut bergabung, disusul juga oleh Lulut. Jadilah kita pergi ke KLCC untuk mencari tempat yang enak untuk beristirahat sejenak. Sambil ngebir, beberapa teman sempat mengajak Chica ngobrol tentang motor. Tapi Chica tampak tidak terlalu nyaman membicarakan tentang motor. Saya pikir, seperti halnya saya, Chica pasti juga bosan ngobrolin motor. Ternyata Chica itu orangnya seru banget. Sseperti teman-teman di Jakarta atau Bali, Chica lebih senang ketika saya membahas sesuatu yang light seperti Miyabi (bintang blue film dari Jepang) dan ia pun menyambut dengan helicopter man, typhoon pictures, wc jongkok, dll. Kami pun tertawa-tawa sambil terus ngebir…

Hingga hari pertama berakhir, tidak ada kabar dari panitia soal pemeriksaan dan scruttinering. Mungkin besok atau sebelum penutupan, pikir saya. Saya sempat mengirimkan sms ke Ade untuk minta Waluyo menyiapkan pompa air suspension supaya bisa dibawa oleh Deckster yang berencana menyusul ke KL esok lusanya. Mudah-mudahan saja saya diperbolehkan panitia untuk mengganti pompa air suspension yang bocor karena pengiriman.

Hari yang sangat melelahkan. Tapi saya sudah merelakan masalah pada motor saya. Karena, baru di hari pertama saja, sudah sangat banyak pengalaman yang saya dapat; berkenalan dengan Fred Bagur, menemukan fakta bahwa (ternyata) sejak awal tahun 2000 motor saya sudah banyak yang suka, ngebir bareng Chica dan Ken… Jadi arti perjalanan ini bukanlah lagi soal kontes. Begitu banyak pengalaman yang saya dapat di hari pertama ini… Whatta day!
Saat breakfast keesokan paginya, saya sempat melihat Russel Mitchell (Exile Cycles), Matt Hotch (Hot Match Custom Cycles) duduk semeja dengan Chica. Nggak disangka, begitu Chica melihat rombongan IBBT, ia langsung menegur dan pindah meja bergabung dengan kami. Chica juga sempat minta ikutan foto bareng ketika kami sedang keseruan berfoto-foto di teras hotel. Menurut saya, untuk seorang builder sekaliber itu, Chica adalah orang yang sangat seru dan nggak sombong.

Sesampainya di acara pembukaan, saya merasa nggak enak badan akibat baju yang saya kenakan basah oleh keringat karena jalan kaki, lantas langsung masuk ke ruangan yang AC-nya maha dahsyat dinginnya. Terpaksa saya melewatkan acara pembukaan dengan beristirahat di kamar hotel. Lagipula pengunjung juga masih sepi. Sorenya, kami berkumpul di kamar Bimo untuk membahas kondisi motor masing-masing. Pada kesempatan itu saya bilang ke tim IBBT bahwa saya sudah mengikhlaskan kondisi motor saya yang terdapat sedikit masalah, yang takutnya bisa mengurangi nilai bahkan bisa pula didiskualifikasi. Dan sejak hari pertama, saya sudah sangat senang bisa terlibat di acara ini. Maka akhirnya hasil keputusan tim IBBT adalah untuk menjagokan motor Lulut dari Retro Classic Cycles. Karena motor Lulut lah yang paling bagus secara keseluruhan, baik dari segi kerapihan, finishing, parts dan lain-lainnya. Way to go, Borrr!!!

Setelah kondisi saya membaik, saya kembali ke acara untuk penjurian. Peserta juga wajib mengisi form penilaian, tapi dilarang mengisi nomor sendiri. Nilai dari peserta ini berpengaruh juga untuk hasil akhir penjurian, yaitu sebesar 30%. Sungguh suatu sistem yang bagus, menurut saya. Jadi kontes ini bukan hanya dinilai oleh juri, tapi juga oleh peserta. Ternyata, melakukan penilaian motor peserta kali ini sangatlah sulit, karena semua dahsyat banget! Sangat terlihat betapa banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk membangun motor-motor ini. Chicara yang sudah pernah menjadi juara dunia tahun 2006, kali ini mengikutkan motornya “Chicara Art2” yang telah meraih gelar juara ke-2 dunia tahun 2007. Saya sangat bangga, bahwa kami - tim IBBT - bersaing melawan sang juara dunia! Hot Dock Custom Cycles dari Jepang yang menjadi juara ke-3 dunia tahun 2007 juga ikut dalam kompetisi ini. Wah, bisa jadi persaingan yang sangat sengit nih! Belum lagi Ken’s Factory dari Jepang, serta Thor dari Heavens Custom Thailand yang membawa motor knucklehead dengan finishing yang luar biasa. Sejak awal melihatnya, saya langsung mikir, “Gila! Berapa banyak jam kerja yang dihabiskan mereka untuk menyelesaikan motor-motor se-detail ini?!” Sungguh sebuah dedikasi yang tinggi! Ada juga peserta lain dari Thailand dengan bentuk frame yang ekstrim, ban belakang 360, velg depan ring 23… Dahsyat!

Pada waktu penjurian, saya sempat berkenalan dengan DC dari Warpigs MC Malaysia. Orangnya seru banget, dan motornya juga bagus banget. DC bilang, ia sering membuka website KickAss Choppers dan pernah mengisi guest book-nya. Sesudah acara penjurian, saya dan DC langsung mencari tempat nongkrong sambil merokok di area taman disusul oleh Chica, Fred Bagur, Kenji Nagai, Chicara, Arif Syahbani, Lulut, dll. Maka, acara pun jadi ‘berpindah’ ke taman.

Hari-hari berikutnya lebih banyak kami habiskan di taman sebagai ‘tongkrongan wajib’ para peserta dan media. Ken sempat mengenalkan saya pada Makato dari majalah Hardcore Chopper (Jepang). Makato sepertinya sempat menyangka saya cuma berbasa-basi waktu mengatakan padanya bahwa saya punya banyak majalahnya. Rupanya ia nggak menyangka majalah yang diproduksinya dalam jumlah sangat kecil itu bisa sampai ke tangan saya. Makato berubah sikap menjadi jauh lebih ramah setelah ia bertanya pada Ken tentang siapa saya dan dijawab oleh Ken bahwa saya adalah pembuat motor berwarna oranye dengan air suspension di dalam. Hanya satu dalam pikiran saya waktu itu, “We speak universal language!!!”



Di hari ke-3, saya berkenalan dengan Mitsuharu (Deepsleep Motorcycle – Jepang) serta Brett Smith (President dari perusahaan raksasa S&S, dan juga merupakan generasi ke-3 pemilik perusahaan itu). Brett kemudian mengundang IBBT untuk makan siang dengannya. Brett memang sangat layak memimpin perusahaan itu, karena ia adalah seorang public speaker yang luar biasa. Dan, ternyata, Brett Smith pernah menjadi seorang captain di ARMY sebelum ia akhirnya bergabung dengan S&S.

Duduk di sebelah saya pada saat makan siang adalah Cory Ness. Ya, dialah putra dari ‘King of Custom Bikes’, Arlen Ness. Cory juga seorang builder yang sangat handal. Ia tidak hidup di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya, tapi Cory sangat berpengaruh dalam perluasan Arlen Ness Enterprise. Cory lebih banyak ngobrol tentang mobil setelah ia tahu bahwa sayalah pembuat motor Anfibio yang finishing-nya banyak menggunakan pernik-pernik dari mobil tua. Saya juga sempat ngobrol tentang mesin shovelhead dengan Kurt Peterson dari S&S. Dan Kurt amat sangat mengerti tentang mesin. Di sela-sela makan siang, Brett Smith sempat mengundang kami untuk mengikuti training di fasilitas S&S. Dan kalau bisa, ujarnya, ia meminta kita juga datang ke 50th Anniversary S&S bulan June 2008 nanti. Usai makan siang, ternyata di luar sedang turun hujan. Jadi tidak seperti waktu berangkat kita jalan kaki, pulangnya saya naik taksi bareng Brett Smith, Peter Cheng dan Lulut.

Sekembalinya kita di tempat acara, nggak banyak yang terjadi. Hanya nongkrong-nongkrong di taman bareng Chica, Deckster, Chichis, Juju, DC dan beberapa orang lainnya hingga sorenya saat pengumuman pemenang tiba. Chicara meraih tempat pertama, Thor dari Heavens Custom (Thailand) di tempat ke-2 dengan motor boardtrack dengan mesin knucklehead, Lulut dari RCC di tempat ke-3 dengan motor “Earthquake”; motor yang konon didedikasikan untuk korban gempa di Jogjakarta tahun 2006. Senangnya salah satu dari tim kami bisa masuk tiga besar. Kekompakan dalam perjalanan kami ternyata tidak sia-sia.

Sesudah pengumuman, kami ramai-ramai mendorong motor dragrace dari tim IBBT milik Iman keluar untuk dinaikkan ke truk. Motor sportster yang sudah di-modified total mesinnya ini bersama motor top fuel milik Takeshi (orang Jepang, juara dragrace top fuel di Amerika) akan dibawa ke menara KL untuk dinyalakan mesinnya untuk meramaikan salah satu pesta dalam menu acara KL Bike Fest ini. Setelah kedua motor naik ke atas truk, tim IBBT yang memang terkenal paling rusuh di acara ini, memutuskan untuk menumpang truk dengan bagian samping yang sengaja dibuka. Setelah diajak, Takeshi dan teman-temannya akhirnya mau bergabung di atas truk. Sepanjang perjalanan, kami – seperti biasa - membuat rusuh di semua jalanan yang kami lewati. Mulai dari godain cewek-cewek di jalan, melambaikan tangan ala Ratu Elizabeth, sampai menyanyikan lagu “Isabella” setelah melihat orang di jalan dengan potongan mirip Amy “Search”. Tim dari Jepang, yang awalnya malu-malu, akhirnya ikut menggila. Mereka berkomentar, “Orang Indonesia gila-gila, apalagi tim IBBT!” Hahaha…

Sampai di Menara KL, setelah motor turun, kami hanya nongkrong di parkiran sambil melihat bike scene di KL. Hingga saatnya si crazy Take menyalakan motornya. Gila, begitu motornya dinyalakan lebih bisa dibilang adrenalin rush! Dada serasa ditonjok keras, air mata sampai menetes keluar karena sisa pembakaran nitro, telinga sampai pekak… Begitu motor dimatikan, semua orang yang berada di parkiran lompat-lompat kegirangan sambil berteriak histeris! Itulah kami, gearhead yang diberi kesempatan mendengar dan melihat motor top fuel dinyalakan hanya dalam jarak beberapa meter saja. Bayangkan, motor top fuel itu bisa mencapai jarak 400 meter hanya dalam waktu 6 detik, dengan 800 tenaga kuda tanpa nitro. Tapi kali ini Takeshi menyalakan nitro-nya. Kalau kita nonton di Amerika pun, hanya bisa dari atas tribun. Hanya mekanik saja yang boleh ada di sekitar motor. Dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan pun, belum tentu saya bisa mengalami pengalaman yang sama. Kami penggila horse power tahu banget gimana rasanya mendengar mesin berkekuatan maha-dahsyat seperti itu; sulit dilukiskan dengan kata-kata!

Walau sudah mendengar suara mesin dari kontingen jepang, IBBT tetap percaya diri untuk menyalakan motor tim kami walau bagaimana motornya memang beda kelas; motor kami masih kelas Harley Davidson - tapi yang terkencang di kelasnya. Kesempatan ini saya gunakan untuk minta izin pada Iman untuk meminjam motor tim kami agar bisa saya pakai burn out. Saya ingin burn out di depan Takeshi dengan maksud agar a menjadi ‘panas’ dan mau burn out juga menggunakan motornya. Puas burn out gila-gilaan, kami memarkir motor di samping motor Takeshi lantas berkata, “It’s time for the big one!” Dan Takeshi pun menjawab, “Ok!”

Sejak kecil, saya sering datang ke balapan - baik yang resmi maupun liar. Kenal dan memiliki mesin 8 silinder sejak duduk di bangku SMP, belum pernah saya merasakan adrenalin yang dipompa sedemikian kencang! Banyak kamera yang nggak bisa menangkap gambar Takeshi karena terlalu kencang bagai anak panah yang dilepas dari busurnya. Dan ini semua terjadi di pelataran parkir Menara KL. Dengan jarak pengereman hampir tak ada, kiri kanan penuh penonton sesak padat, dan sisa lebar jalan hanya 2 meter saja, Takeshi dengan berani menggenjot motornya hingga sepanjang jalan membekaskan tapak bannya… Aspal pun rusak hanya karena sekali lewat! Sekarang saya tahu bagaimana Takeshi mendapatkan nick name “Crazy Take”.



Hari terakhir, sekitar pukul 8 pagi, saya sudah berada di tempat acara untuk memenuhi janji saya dengan Fred Bagur untuk pemotretan Anfibio. Ternyata hanya Anfibio lah satu-satunya motor yang didorong keluar untuk difoto oleh Fred pada saat acara. Oleh karenanya, kami harus selesai sebelum acara dimulai pada pukul 10. Cuaca saat itu sangat mendukung. Kami juga meddapat spot lokasi yang bagus. Dan ternyata Fred adalah fotografer yang sangat handal sehingga hasilnya seperti kualitas studio walaupun hanya foto di sekitar loading dock KLCC. Beres photo session, saya dan Deckster pergi makan siang sementara Fred harus ke Sepang untuk liputan Moto GP. Sepulangnya dari makan siang, saya sempat bertemu Neil Blaber, pemimpin AMD. Ia sempat memperlihatkan nilai keseluruhan dari kontes. Hasilnya adalah nilai yang sangat tipis satu dengan lainnya. Berurutan dimulai dari Chicara, Heavens Custom, Retro Classic Cycles, Ken’s Factory, KickAss Choppers, Monochrome Cycles, Dody Chrome, Hot Dock, Bimo Custom Bikes, dll. Sisanya, Malaysia sebagai tuan rumah dan peserta dari Thailand yang lain malah berada di urutan terendah, dengan nilai yang terpaut agak jauh dibanding sepuluh besar. Cukup respectable. Lumayan lah untuk motor yang dibuat hampir 2 tahun lalu. Walaupun Anfibio bukan yang dijagokan kali ini karena ada trouble pada air suspension, toh masih masuk 5 besar. Dan sampai saat acara ini ditutup pun, ternyata uji kelayakan jalan motor-motor dan scrutineering itu tidak ada. Yah, akan tetapi semua ini bukan soal urutan, melainkan mewujudkan misi kita; bahwa Indonesia harus memapakkan diri di level yang seharusnya di dunia modifikasi. Dan semua itu sudah terwujud, terhitung sejak tanggal 18 Oktober 2007 kemarin.

Veroland




back to index news